Sabtu, 25 Juli 2009

Kisah 3 Pohon

Alkisah, ada tiga pohon di dalam hutan. Suatu hari, ketiganya saling menceritakan mengenai harapan dan impian mereka..
Pohon pertama berkata: “Kelak aku ingin menjadi peti harta karun. Aku akan diisi emas, perak dan berbagai batu permata dan semua orang akan mengagumi keindahannya” .
Kemudian pohon kedua berkata: “Suatu hari kelak aku akan menjadi sebuah kapal yang besar. Aku akan mengangkut raja-raja dan berlayar ke ujung dunia. Aku akan menjadi kapal yang kuat dan setiap orang merasa aman berada dekat denganku”.
Lalu giliran pohon ketiga yang menyampaikan impiannya: “Aku ingin tumbuh menjadi pohon yang tertinggi di hutan di puncak bukit. Orang-orang akan memandangku dan berpikir betapa aku begitu dekat untuk menggapai surga dan TUHAN. Aku akan menjadi pohon terbesar sepanjang masa dan orang-orang akan mengingatku” .
Setelah beberapa tahun berdoa agar impian terkabul, sekelompok penebang pohon datang dan menebang ketiga pohon itu…
Pohon pertama dibawa ke tukang kayu. Ia sangat senang sebab ia tahu bahwa ia akan dibuat menjadi peti harta karun. Tetapi, doanya tidak menjadi kenyataan karena tukang kayu membuatnya menjadi kotak tempat menaruh makanan ternak. Ia hanya diletakkan dikandang dan setiap hari diisi dengan jerami.
Pohon kedua dibawa ke galangan kapal. Ia berpikir bahwa doanya menjadi kenyataan. Tetapi, ia dipotong-potong dan dibuat menjadi sebuah perahu nelayan yang sangat kecil. Impiannya menjadi kapal besar untuk mengangkut raja-raja telah berakhir.
Pohon ketiga dipotong menjadi potongan-potongan kayu besar dan dibiarkan teronggok dalam gelap.
Tahun demi tahun berganti, dan ketiga pohon itu telah melupakan impiannya masing-masing.
Kemudian suatu hari, sepasang suami istri tiba di kandang. Sang istri melahirkan dan meletakkan bayinya di kotak tempat makanan ternak yang dibuat dari pohon pertama. Orang-orang datang dan menyembah bayi itu. Akhirnya pohon pertama sadar bahwa di dalamnya telah diletakkan harta terbesar sepanjang masa.
Bertahun-tahun kemudian, sekelompok laki-laki naik ke atas perahu nelayan yang dibuat dari pohon kedua. Di tengah danau, badai besar datang dan pohon kedua berfikir bahwa ia tidak cukup kuat untuk melindungi orang-orang di dalamnya. Tetapi salah seorang laki-laki itu berdiri dan berkata kepada badai: “Diam!!!” Tenanglah”. Dan badai itupun berhenti. Ketika itu tahulah bahwa ia telah mengangkut Raja di atas segala raja.
Akhirnya, seseorang datang dan mengambil pohon ketiga. Ia dipikul sepanjang jalan sementara orang-orang mengejek lelaki yang memikulnya. Laki-laki itu kemudian dipakukan di kayu ini dan mati dipuncak bukit. Akhirnya pohon ketiga sadar bahwa ia demikian dekat dengan TUHAN, karena YESUS-lah yang disalibkan padanya…
—————————————————————————————————————-
Ketika keadaan tidak seperti yang engkau inginkan, ketahuilah bahwa Tuhan memiliki rencana untukmu. Jika engkau percaya pada-Nya, Ia akan memberimu berkat-berkat besar. Ketiga pohon mendapatkan apa yang mereka inginkan, tetapi tidak dengan cara yang seperti mereka bayangkan. Begitu juga dengan kita, kita tidak selalu tahu apa rencana Tuhan bagi kita. Kita hanya tahu bahwa jalan-Nya bukanlah jalan kita, tetapi jalan-Nya adalah yang terbaik bagi kita, selamanya…

Senin, 20 Juli 2009

Interview With God

Man : Selamat pagi Tuhan, sekiranya Tuhan punya waktu sedikit aku ingin bicara.
GOD : Ooo..waktuKU adalah KEKEKALAN, tidak ada masalah tentang waktu. Apa pertanyaanmu?
Man : Thanks GOD.. Apa yang paling mengherankan bagiMU tentang kami manusia?
GOD : Hahaha.. kalian itu makhluk yang aneh.
* Pertama, suka mencemaskan masa depan, sampai lupa pada apa yang harus diperbuat hari ini.
* Kedua, kalian hidup seolah-olah tidak bakal mati.
* Ketiga, kalian cepat bosan sebagai anak-anak dan terburu-buru ingin dewasa. Namun setelah dewasa kalian rindu lagi jadi anak-anak : suka bertengkar, ngambek, dan ribut karena soal-soal sepele.
* Keempat, kalian rela kehilangan kesehatan demi mengejar uang, tetapi membayarnya kembali untuk mengembalikan kesehatan itu.
Hal-hal begitulah yang membuat hidup kalian susah.
Man : Lantas apa nasihat Tuhan agar kami bisa hidup BAHAGIA ?
GOD : Sebenarnya semua nasihat sudah pernah AKU berikan. Inilah satu lagi keanehan kalian : suka melupakan nasihatKU. Baiklah KU ulangi lagi beberapa yang terpenting.
1. Kalian harus sadar bahwa mengejar rejeki adalah sebuah kesalahan. Yang seharusnya kalian lakukan ialah menata diri agar kalian layak dikucuri rejeki. Jadi jangan mengejar rejeki, tetapi biarlah rejeki yang mengejar kalian.
2. Ingat : “siapa” yang kalian miliki itu lebih berharga dari pada “apa” yang kalian punyai. Perbanyaklah teman, kurangi musuh.
3. Jangan bodoh dengan cemburu dan membandingkan apa yang dimiliki org lain. Melainkan Bersyukurlah dengan apa yang sudah kalian terima. Khususnya, kenalilah talenta dan potensi yang kalian miliki lalu kembangkanlah itu sebaik-baiknya, maka kalian akan menjadi manusia unggul. Otomatis rejeki yang akan mengejar kalian.
4. Ingat orang yang disebut kaya bukanlah dia yang berhasil mengumpulkan yang paling banyak, tetapi adalah dia yang paling “sedikit” memakai miliknya, sehingga masih sanggup memberikan sebagian dari miliknya kepada sesamanya. Ok ?
Yang terpenting buat kamu pribadi yang sedang membaca ini, bisa mengerti dan bertindaklah sesuai dengan ajaran dan petunjuk KU . Ingat janji ini : “AKU tidak akan pernah meninggalkanmu”.

Kau Tak Akan Tahu !

Alkisah di suatu negeri burung, tinggallah bermacam-macam keluarga burung. Mulai dari yang kecil hingga yang besar. Mulai dari yang bersuara lembut hingga yang bersuara menggelegar. Mereka tinggal di suatu pulau nun jauh di balik bukit pegunungan.
Sebenarnya selain jenis burung masih ada hewan lain yang hidup di sana. Namun sesuai namanya negeri burung, yang berkuasa dari kelompok burung. Semua jenis burung ganas, seperti, burung pemakan bangkai, burung Kondor, burung elang dan rajawali adalah para penjaga yang bertugas melindungi dan menjaga keselamatan penghung negeri burung.
Burung-burung kecil bersuara merdu, bertugas sebagai penghibur. Kicau mereka selalu terdengar sepanjang hari, selaras dengan desau angin dan gesekan daun. Burung-burung berbulu warna warni, pemberi keindahan.
Mereka bertugas bekeliling negri melebarkan sayapnya, agar warna-warni bulunya terlihat semua penghuni. Keindahan warnanya menimbulkan kegembiraan. Dan rasa gembira bisa menular bagai virus, sehingga semua penghuni merasa senang.
Pada suatu ketika, seekor induk elang tengah mengerami telur-telurnya. Setiap pagi elang jantan datang membawa makanan untuk induk elang. Akhirnya, di satu pagi musim dingin telur-telur mulai menetas. Ada 3 anak elang yang nampak kuat berdiri. Dua anak elang hanya mampu mengeluarkan kepalanya dari cangkang telur harus berakhir dalam paruh sang ayah.
Dengan tangkas, elang jantan mengoyak cangkang telur lalu mematuk-matuk calon anak yang tak jadi. Perlahan-lahan sang induk memberikan potongan-potongan tubuh anaknya ke dalam paruh mungil anak-anak elang. Kejam…? Ini hanya masalah kepraktisan. Untuk apa terbang dan mencari makan jauh-jauh jika ada daging bangkai di dalam sarang. Sebagai hewan, elang hanya mempunyai naluri dan akal tanpa nurani. Inilah yang membedakan manusia dan hewan.
Waktu berjalan terus, hari berganti hari. Anak-anak elang yang berbentuk jelek karena tak berbulu, kini mulai menampakkan keasliannya. Bulu-bulu halus mulai menutupi daging di tubuh masing-masing. Kaki kecil anak-anak elang sudah mampu berdiri tegak. Walau kedua sayapnya belum tumbuh sempurna.
Induk elang dan elang jantan, bergantian menjaga sarang. Memastikan tak ada ular yang mengincar anak-anak elang dan memastikan anak-anak elang tak jatuh dari sarang yang berada di ketinggian pohon.
Suatu pagi, saat induk elang akan mencari makan dan bergantian dengan elang jantan menjaga sarang. Salah seekor anak elang bertanya:
”Kapankah aku bisa terbang seperti ayah dan ibu?”
Induk elang dan elang jantan tersenyum, bertukar pandang lalu elang jantan berkata: ”Waktunya akan tiba, anakku. Jadi sebelum waktu itu tiba, makanlah yang banyak dan pastikan tubuhmu sehat serta kuat”. Usai sang elang jantan berkata, induk elang merentangkan sayapnya lalu mengepakkan kuat-kuat.
Hanya dalam hitungan yang cepat, induk elang tampak menjauhi sarang. Terlihat bagai sebilah papan berawarna coklat melayang di awan. Anak-anak elang, masuk di bawah sayap elang jantan. Mencari kehangatan kasih sang jantan.
Waktu berjalan terus, musim telah berganti dari musim dingin ke musim semi. Seluruh permukaan pulau mulai menampakan warna-warni dedaunan. Bahkan sinar mentari memberi sentuhan warna yang indah.
Anak-anak elang pun sudah semakin besar dan sayapnya mulai ditumbuhi bulu-bulu kasar. Suatu ketika seeor anak elang berdiri di tepi sarang, ketika ada angin kencang, kakinya tak kuat mencengkram tepi sarang sehingga ia meluncur ke bawah. Induk elang langsung merentangkan sayang dan mendekati sang anak seraya berkata: ”Rentangkan dan kepakan sayapmu kuat-kuat!”
Tapi rasa takut dan panik menguasai si anak elang karenanya ia tak mendengar apa yang dikatakan ibunya. Elang jantan menukik cepat dari jauh dan membiarkan sayapnya terentang tepat sebelum si anak mendarat di tanah. Sayap elang jantan menjadi alas pendaratan darurat si anak elang.
Si anak elang yang masih diliputi rasa panik dan takut tak mampu bergerak. Tubuhnya bergetar hebat. Induk elang, dengan kasih memeluk sang anak. Menyelipkan di bawah sayapnya dan memberikan kehangatan. Sesudah si anak tenang dan tak gemetar, induk elang dan elang jantan membawa si anak kembali ke sarang.
Peristiwa itu menimbulkan rasa trauma pada si anak elang. Jangankan berlatih terbang dengan merentangkan dan mengepakkan sayap. Berdiri di tepi sarang saja ia sangat takut. Kedua saudaranya sudah mulai terbang dalam jarak pendek. Hal pertama yang diajarkan induk dan elang dan elang jantan adalah berusaha agar tidak mendarat keras di dataran.
Lama berselang setelah melihat kedua saudaranya berlatih, si elang yang pernah jatuh bertanya pada ibunya:
”Adakah jaminan aku tidak akan jatuh lagi?”
”Selama aku dan ayahmu ada, kamilah jaminanmu!” jawab si induk elang dengan penuh kasih.
”Tapi aku takut!’ ujar si anak
”Kami tahu, karenanya kami tak memaksa.” Jawab si induk elang lagi.
”Lalu apa yang harus kulakukan agar aku berani?” tanya si anak
”Untuk berani, kamu harus menghilangkan rasa takut!”
”Bagaimana caranya?”
”Percayalah pada kami!” Ujar elang jantan yang tiba-tiba sudah berada di tepi sarang.
Si anak diam dan hanya memandang jauh ke tengah lautan. Tiba-tiba si anak elang bertanya lagi.
”Menurut ibu dan ayah, apakah aku mampu terbang keseberang lautan?”
Dengan tenang si elang jantan berkata: ”Anakku kalau kau tak pernah merentangkan dan mengepakkan sayapmu, kami tidak pernah tahu, apakah kamu mampu atau tidak. Karena yang tahu hanya dirimu sendiri!”
Lalu si induk elang menambahkan: ”Mulailah dari sekarang, karena langkah kecilmu akan menjadi awal perubahan hidupmu. Semua perubahan di mulai dari langkah awal, anakku!”
Si anak elang diam tertegun, memandang takjub pada induk elang dan elang jantan. Kini ia sadar, tak ada yang tahu kemampuan dirinya selain dirinya sendiri. Kedua orang tuanya hanya memberikan jaminan mereka ada dan selalu ada, jika si anak memerlukan.
Didorong rasa bahagia akan cinta kasih orang tuanya, si elang kecil berjanji akan berlatih dan mencoba. Ketika akhirnya ia menggantikan elang jantan menjadi pemimpin keselamatan para penghuni negeri burung, maka tahulah ia, bahwa kesuksesan yang diraihnya adalah di mulai saat tekad terbangun untuk melangkah. Sukses itu tak pernah ada kalau hanya sebatas tekad. Tapi tekad itu harus diwujudan dengan tindakan nyata walau di mulai dari langkah yang kecil.

Jumat, 17 Juli 2009

Mencari Pasangan Hidup Dari Tuhan

Menikah itu sekali seumur hidup, tentunya di atas segalanya kamu ingin minta peneguhan Tuhan. Nah, berikut ini adalah 10 peneguhan jawaban Tuhan jika kamu ingin menikahi seseorang:
1. Cinta yang dalam seakan dia adalah bagian dari dirimu yang hilang (Inilah tulang dari tulangku dan daging dari dagingku).
Ini lebih dalam daripada romance. Perhatikan: cinta seperti ini adalah seperti kamu mencintai dirimu sendiri. Kamu mencintai dia apa adanya tanpa melihat latarbelakangnnya. Tanpa melihat rupanya. Si dia adalah merupakan bagian dari dirimu sendiri. Kamu sangat mencintainya. Inilah tanda paling penting, makanya dibikin di urutan pertama.
2. Peneguhan lewat kencan/pergaulan.
Dalam hal ini Tuhan akan memberikan jawabannya jika hatimu peka. Kamu bisa lihat melalui kebiasaannya apakah bertentangan dengan firman Tuhan. Perhatikan: jangan pernah tertipu dengan rupa, jangan terbuai dengan romance dan jangan terpikat dengan janji. Kalo waktu pacaran saja tak mau berubah apalagi sesudah merrid. Mau berantam, it’s ok. Mau marah-marah, musuh-musuhan, ga masalah asal diselesaikan dan bertobat dalam Tuhan. Hasilnya jauh lebih indah. Justru kalo selama pacaran manis-manis aja maka bersiaplah pertengkaran akan muncul setelah. Hal yang paling penting di sini adalah keterbukaan. Dalam tahap ini ia akhirnya menjadi sahabatmu, kalo tidak hubungan ini gagal. Berapa lama sebaiknya pacaran? Ga ada batasannya, sampai dia akhirnya menyandang gelar ‘sahabat terbaikmu’. Kalo masih ada sahabatmu yang lebih baik dari dia, maka hubunganmu akan gagal. Menikahlah dengan sahabat terbaikmu!
3. Peneguhan visi dan panggilan.
Dia adalah orang yang mengerti panggilanmu, mendukungmu, memotivasi dan mau membayar harganya demi mencapainya karena itu adalah visinya juga. Jadi untuk menuju kesana ga sulit karena keduanya bisa berlari. Yang satu menopang, bukan menghalangi. Menguatkan bukan malah menjadi beban. Jika pacarmu yang sekarang rupawan tapi hatinya ga ngerti panggilan Allah dalam dirimu, tinggalkan dia dan Tuhan siapkan yang lebih baik. Karena ga mungkin pasangan dari Tuhan menjauhkan kita dari panggilan hidup kita.
4. Peneguhan dari Bapa rohani atau sahabat-sahabat rohanimu.
Merekalah orang-orang yang peduli (bukan orang yang mengkritikmu diam-diam). Mereka yang jadi inspirasi kamu dalam hal mengasihi Tuhan. Mereka berdoa agar hidupmu berbahagia. Jadi pantas kamu tanyakan padanya.
5. Peneguhan orang tua.
Orang tua biasanya Tuhan pake seluas-luasnya dengan hikmat dari Tuhan untuk meneguhkanmu, jadi jangan segan-segan bertanya pada mereka. Mereka tau yang terbaik bagimu. (Walau bagaimanapun orang tua di sini maksudnya adalah orang tua yang jelas-jelas sudah memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan)
6. Preference.
Believe it or not! Tuhan tuh kasih jodoh yang sesuai dengan kesukaanmu. Preference mempertemukan kamu dengen orang yang kamu sukai dan dia juga menyukaimu. Misalnya sifat-sifat bawaan, misalnya kamu pengen banget sama cowok yang agak pendiam (Tuhan bisa kasih yg sperti itu lho). Bukan hanya itu, preference di sini termasuk physical appearance. Kamu pasti suka tampilan luar jodohmu Waktu merrid bahkan sampai tuapun, kamu ga bosan memuji kekasihmu dari ujung rambut ampe ujung kaki (Biar ngerti baca kitab Kidung Agung).
7. Mimpi.
8. Suara Tuhan langsung (seperti Allah berbicara kepada Samuel atau Paulus)
9. Perkataan Roh nubuat yang disampaikan orang lain (termasuk malaikat).
Pesan Tuhan seperti ini bisa kamu dapatkan sebagai bonus atas doa puasamu. Atau bukan based on that , bisa karena kemurahan Tuhan semata (Memang Tuhan sangat murah hati). Jangan takut, ini bukan trade mark denominasi tertentu.
10. Tanda Gideon.
Ini semacam isyarat ‘Yes’ or ‘No’ dari Tuhan. Gideon dulu pakai media, kalo “Yes” please bikin “begini” ya Tuhan, Kalo “No” bikin begitu. Yang ini paling sulit. Makanya aku bikin paling akhir. Jangan tanyakan padaku, mari kita tanya sama Gideon. Misalnya kalo kamu lagi suka sama seseorang dan minta tanda Gideon, dan bilang: “Kalo benar dia orangnya, biarlah Tuhan pada kebaktian minggu dia memakai baju warna pink”. Lalu pas ibadah minggu ternyata si dia pake baju biru…he…he. So, jangan ngotot. Kalo Tuhan tidak kasih tanda Gideon, yah udah cek kembali 9 petunjuk di atas.
Ada sepuluh peneguhan. Jadi kamu bisa uji dengan 2-3 peneguhan sudah cukup. Aku berdoa supaya kamu-kamu yang baca ini diberikan hikmat Tuhan untuk menemukan pasangan hidupmu-jodoh dari Tuhan. Yang terutama dari semua ini adalah supaya nama Tuhan dipermuliakan dalam setiap pernikahan di bumi ini.

Kamis, 02 Juli 2009

Seperti Petani Yang Bersabar

“Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi” (Yakobus 5:7).
Seorang pemuda Kristen mendatangi pendetanya minta didoakan. “Maukah Pak Pendeta berdoa buat saya agar saya memiliki kesabaran?” Sang pendeta itu mau, lalu mereka sama-sama berlutut. Mulailah bapak pendeta itu berdoa, “Tuhan, kirimkanlah kepada anak muda ini pencobaan pada pagi hari; kirimkanlah pencobaan pada siang hari; kirimkanlah….. “ Seketika itu juga anak muda tersebut berteriak, “Bukan, bukan, saya tidak meminta Pak Pendeta berdoa untuk pencobaan. Aku ingin Bapak berdoa untuk kesabaran buat saya.”
“Oh…..,” kata pendeta itu, “Hanya melalui pencobaan kita belajar tentang kesabaran.”
Berapa berat persoalan yang Anda hadapi tetapi tanpa kesabaran? Berapa banyak di antara Anda mau membayarkan harganya supaya mempunyai kesabaran? Kita minta kesabaran kepada Tuhan, tetapi Anda berdoa seperti ini, “Tuhan, berikan aku hati yang sabar, tetapi berikanlah SEKARANG ini juga!”
Hanya melalui proses yang disebut persoalan, Tuhan akan membentuk kita menjadi manusia yang sabar.
Yakobus memberikan ilustrasi mengenai hal ini dengan perumpamaan seorang petani yang bersabar menunggu hujan. Ketika petani menanam benihnya, ia tidak langsung menuai dari hasilnya keesokan harinya atau beberapa hari lagi. Ia bersabar sampai hujan turun dan memberikan nutrisi pada tanah itu, lalu beberapa lama kemudian barulah ia menuai hasilnya. Saat panen itulah saat ia menuai dari hasil kesabarannya.
Inti dari pembicaraan ini adalah bersabar hingga kedatangan Tuhan. Anda adalah petani itu. Anda menanam kebaikan, membagikan kasih, dan berkorban, sepertinya tidak ada artinya. Seluruh penderitaan yang Anda alami tidak serta merta menuai hasilnya. Kadang kita harus menunggu sampai Yesus datang untuk mempermuliakan kita. Tetapi ada banyak petani yang akhirnya putus asa lalu menjadi tidak sabar. Mereka kembali lagi kepada cara-cara duniawi yang mempermalukan nama Tuhan.
Renungan:
Percayalah bahwa Yesus pasti datang dan Ia akan memberikan “piagam” kepada mereka yang bersabar. Dan kalau untuk itu Anda harus melalui persoalan, bersabarlah. Hadapi semuanya bersama-sama dengan Yesus, perlahan namun pasti Anda sedang dibentuk Tuhan supaya semakin cemerlang di hadapannya.