Selasa, 20 Januari 2009

Cinta Yang Tak Berkesudahan

Ada seorang pria yang memiliki kekasih yang sangat dicintainya dengan sepenuh hati. Apapun dilakukan demi menunjukkan rasa cintanya pada permata hatinya ini. Suatu saat, pria ini berkata kepada kekasihnya, “Kekasihku, aku akan memberikan apapun yang kamu minta, asalkan aku menilai hal itu baik buatmu. Karena aku tidak ingin melihat engkau kecewa dengan pilihanmu yang salah”.
Hari demi hari berlalu mengiringi perjalanan cinta mereka. Pria ini tak pernah memalingkan hatinya atau melupakan kekasihnya. Sementara sang wanita merasa berbahagia memiliki pria ini. Hingga suatu hari, wanita ini meminta sesuatu dari kekasihnya. Dia menginginkan sebuah kalung dengan berlian pada liontinnya. Ketika pia ini mendengar permintaan kekasihnya, dia menolak. Dia berkata, “Kekasihku, bukannya aku tidak mau atau tidak bisa membelikanmu kalung itu. Tapi sangat berbahaya bila engkau memakai kalung itu. Bila ada orang yang gelap mata, dia akan merampas kalung itu dan kalau itu terjadi, bukan hanya kamu yang celaka, aku juga akan sangat menderita melihatmu seperti itu. Aku hanya tidak mau kamu mendapat celaka”. Tapi kekasihnya terus meminta kalung itu dan tidak mau mendengar nasehatnya. Akhirnya kalung itu pun dibeli dan dipakai oleh sang wanita.
Selang beberapa hari, apa yang ditakutkan oleh pria ini benar-benar terjadi. Ada 2 orang penjahat yang merampas kalung itu saat kekasihnya sedang mengendarai motor. Kalung itu pun terampas dan wanita ini terjatuh dari motornya. Mendengar berita ini, si pria langsung menemui kekasihnya, membawanya pulang dan mengobati lukanya. Dengan menangis, pria ini berkata, “Mengapa engkau tidak mau menuruti kata-kataku? Engkau mendapat celaka seperti ini, aku merasa sepuluh kali lebih sakit daripadamu”. Wanita ini menangis, dia menyesal dan berkata, “Maafkan aku, aku bersalah padamu karena tidak mendengar perkataanmu dan menuruti keinginanku sendiri. Aku menyesal. Maukah engkau memaafkan aku?”. Dengan penuh cinta kasih pria ini memeluk kekasihnya dan berkata, “Aku memaafkanmu sejak tadi. Aku bahagia karena aku bisa memelukmu dalam keadaan engkau masih hidup. Mulai sekarang, turutilah perkataanku karena aku tidak pernah akan membiarkanmu celaka”. Kekasihnya mengangguk dan mereka menangis bahagia…
SOBAT.. Bukankah cerita itu mirip dengan hidup kita sehari-hari yang kita lewati bersama TUHAN? Tuhan adalah pria itu dan kita adalah sang wanita. Ketika awal kita mengenal DIA, kita berkobar-kobar dan melalui setiap detik dalam hidup dengan bahagia. Tetapi dengan berjalannya waktu, saat kita menginginkan sesuatu dan memohon padaNYA, seringkali permohonan kita tidak sesuai dengan kehendak TUHAN. Tapi kita terus memaksa dan merengek seperti anak kecil. Saat TUHAN benar-benar mengabulkan permohonan kita, belum tentu itu baik buat kita. Malah bisa-bisa kita kecewa karena menuruti keinginan kita sendiri. Saat itu terjadi, barulah kita ingat padaNYA, kita menyesal dan minta ampun.
Beruntunglah karena kita memiliki ALLAH yang Maha Pengampun. Dia tidak pernah menolak bila kita memohon ampun atas semua kesalahan dan kekerasan hati kita.
TUHAN tidak pernah meninggalkan kita. Tetapi seringkali kita yang meninggalkanNYA. Dan apa yang DIA lakukan? Denga sabar DIA menunggu kita kembali padaNYA.
SOBAT, ingatlah :
Saat kita berhenti melangkah jauh dariNYA, maka DIA tersenyum…
Saat kita menoleh padaNYA, maka DIA tertawa…
Saat kita berbalik padaNYA, maka DIA membuka kedua tanganNYA…
Saat kita melangkah 1 Langkah ke arahNYA, maka DIA akan BERLARI 1000 LANGKAH MENGHAMPIRI KITA….
Sungguh cintaNYA pada kita takkan pernah berkesudahan..

Minggu, 11 Januari 2009

Memperoleh Berkat Dari Tuhan

Seandainya pada suatu hari, anda harus hidup dalam kondisi yang lapar berat. Dan dihadapanmu hanya tersedia tempat untuk memanggang ikan. Kemudian bertemu dengan mailakat Tuhan. Dan malaikat ini tahu persis keadaan mu. Lalu ia menyodorkan 2 pilihan kepada anda, yaitu :
Pertama, apakah kamu mau ikan ? Jika mau, saat ini juga aku dapat langsung memberikan 10 ekor ikan tanpa susah payah engkau menangkapnya.
Kedua, apakah mau kutunjukan jalan-nya untuk mendapatkan ikan ? Jika mau, aku akan memberikan kepadamu kail, umpan dan jala serta caranya untuk menangkap ikan. ( Karena  anda sama sekali tidak tahu bagaimana memancing atau menangkap ikan ).
Jawaban apa yang akan anda jawab ?
Tentunya sebagai orang normal, kita akan menjawab yang pertama. Ini jawaban yang manusiawi. Tapi bagaimana jika kita memilih jawaban yang kedua ? jawaban yang kedua adalah jawaban yang BIJAKSANA.
Ini adalah perumpamaan yang sederhana. Jika kita memilih yang pertama, pada awalnya kita tidak akan kekurangan pasokan makanan. Namun dalam hitungan beberapa hari, anda harus menghadapi kenyataan, bahwa makanan mu pada akhirnya habis total.
Jika kita memilih jawaban yang kedua, pada awalnya kita harus bersusah payah untuk menangkap ikan. Anggaplah hasilnya tidak terlalu banyak. Tapi jika suatu saat seluruh ikan sudah habis, kita bisa kembali menangkapnya. Karena kita sudah tahu jalan-nya dan caranya.
Hanya orang yang dekat dan intim dengan Tuhan yang mendapatkan kail dan caranya untuk menangkap ikan. Ini tercermin didalam mazmur :
Ia telah memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musa, perbuatan-perbuatan-kepada orang Israel. Mazmur 103:7
Orang Israel selalu melihat perbuatan Tuhan berupa mujijat. Sebut saja : 10 tulah, manna dari surga, burung puyuh, tiang awan, tiang api, laut terbelah dua. Tapi apakah mereka mengerti bagaimana itu bisa terjadi ? dan bagaimana caranya untuk melihat mujijat ? mereka tidak pernah bertanya seperti itu kepada Tuhan.
Analogi ini haruslah menjadi peringatan bagi kita. Seringkali kita ingin instant mendapat mujijat, tapi tidak pernah mau memilih bagaimana caranya untuk mendapatkan mujijat. Kita ingin ikan tapi tidak mau kail apalagi ditambah dengan susah payah memancingnya.
Mari kita ubah mentalitas kedagingan kita dengan mentalitas kerajaan surga. Dengan cara meminta petunjukNya dan mengajarkan kita tentang jalan jalanNya.
Dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: “Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; Yesaya 2:3